Namanya Athaya Jaler Maulana, kami biasa memanggilnya Athayo atau Tayo, seperti nama serial kartun di TV. Tayo ini anak adik bungsu saya. Dia anak yang lucu, berkulit putih, dengan bibir tebal seperti bibir ibunya dan alis tipis melengkung seperti alis ayahnya. Selain lucu, Athayo kecil juga bukan anak yang rewel dan manja. Seperti anak-anak kecil lain Tayo sangat suka kartun di youtube. Ya maklum, anak zaman now. Pokoknya tidak ada yang aneh dengan Tayo. Cuma ada satu hal yang menjadi ganjalan yakni pertumbuhan Tayo kecil yang cenderung agak lambat dibandingkan anak seusianya. Hingga usia 1,5 tahun, Tayo belum berjalan dan belum bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas.
Suatu hari adik saya mengeluh Tayo berhari-hari susah tidur. Di malam hari, dia sering terjaga dan baru tidur diatas jam 12 malam. Tayo bahkan pernah tidur jelang subuh. Padahal Tayo di siang hari tidur hanya sebentar, kadang sore tidak tidur. Tapi saat malam hari, Tayo sering terjaga dengan energi yang masih full. Kalau ibunya mengantuk, Tayo digendong ayahnya dan disetelkan kartun di youtube. Bila sudah menonton video youtube, Tayo bisa fokus berlama-lama. Orangtuanya pun tidak terlalu khawatir dengan kebiasaan Tayo itu. Kalaupun rewel, itu tandanya Tayo sudah mengantuk, lapar atau buang air. Soal kebiasaannya begadang di malam hari, kami semua mempercayai Tayo hanya mengalami anomali siklus tidur dan nanti akan kembali tidur di jam normal seperti anak-anak lain.
Orangtua Tayo justru mulai khawatir dengan perkembangan motorik Tayo. Pada usia 1 tahun Tayo bahkan baru mulai belajar duduk. Bukan hanya itu, pertumbuhan giginya pun lebih lambat dibandingkan anak seumurnya. Diapun dibawa ke terapis untuk mengetahui permasalahan dengan tumbuh kembangnya yang cenderung lambat. Menurut terapis, itu karena Tayo kurang stimulasi sehingga dia lambat berjalan dan lambat bicara. Otot-otot kakinya masih lemas sehingga membutuhkan terapi khusus. Ya, jangankan belajar berjalan, Tayo kecil belum mau berdiri. Dia lebih suka mengesot. Sang nenek alias mertua adik saya tidak tinggal diam. Berbagai cara ditempuh untuk melatih cucunya berjalan, mulai dari melatih berdiri hingga disabet welut. Cara terakhir itu dipercaya sebagian orang Jawa bisa membuat seorang anak segera berjalan.
Tayo suka menunjuk plafon kamar. Melihat siapa dia?
Lambatnya perkembangan motorik Tayo belum selesai, aktivitas tidur Tayo pun masih belum menunjukkan perubahan. Satu hal yang tak biasa adalah kebiasaan Tayo melihat plafon kamar. Dia bisa berlama-lama melihatnya. Dan kebiasaannya itu sudah dilakukan sejak kecil. Awalnya ini dianggap hal yang biasa. Entah bagaimana awalnya, suatu hari mertua adik saya yang berprofesi guru memanggil mantan muridnya yang konon punya kemampuan lebih alias indigo. Oleh anak indigo inilah Tayo disebut memiliki ‘teman-teman’ yang mengajaknya bermain sehingga selalu terjaga di malam hari. Teman-teman ini disebutkan diperoleh Tayo dari jalan-jalan. Yang mengejutkan menurut si anak indigo ini Tayo juga punya kecenderungan indigo sehingga dia ‘menarik’ bagi ‘teman-teman’ tak kasat matanya.
Antara percaya tidak percaya, adik saya mengingat-ingat kembali keanehan-keanehan yang dilakukan anaknya saat begadang. Tayo sejak bayi suka melihat langit-langit kamarnya. Kadang dia mengulurkan tangannya ke satu titik di plafon kamar seperti tengah memanggil burung. Suatu malam Tayo bahkan menunjuk pinggiran tempat tidur seolah tengah bicara dengan seseorang. Tentu saja tidak ada orang di pinggir tempat tidur. Di rumah itu hanya ada adik saya, suaminya dan Tayo. Entah siapa yang ditunjuk Tayo.
Konon, pada titik tertentu anak-anak memang memiliki teman imajinasi alias imaginary friends. Mungkin itu pula yang terjadi pada Tayo. Ken, anak kedua saya juga punya sensitivitas tersendiri pada hal-hal seperti ini. Pernah saat menginap di rumah mertua, Ken menunjuk di depan kamar mandi katanya ada monyet. Kebetulan, rumah mertua ini tinggal di daerah dekat perbukitan Gunung Kidul yang dulunya adalah hutan belantara. Ken juga sempat tidak mau tidur di lantai atas rumah kami pasca renovasi tanpa alasan jelas.
Bahayakah teman-teman istimewa Tayo?
Kejadian demi kejadian membuat kami semua lebih peka pada aktivitas Tayo. Setiap kali Tayo melakukan sesuatu yang aneh, adik saya mengirimkannya ke saya. Suatu malam saya ditunjukkan video Tayo duduk, tampak jelas dia mengantuk, tapi dia nampak menahan kantuknya dan duduk melihat pada titik kosong di depannya. Kali lain dia tampak tidur telentang, matanya fokus menatap ke titik di plafon. Mamanya memanggilnya namun tak dihiraukan. Tayo baru ‘sadar’ saat mamanya mengkitik-kitik perutnya. Tayo juga punya kecenderungan kurang merespon saat dipanggil namanya. Ibu saya awalnya tidak percaya, sampai suatu saat Tayo main ke rumah saya. Saat kami berkumpul, Tayo asyik bermain sendiri. Tangannya tampak membelai-belai sesuatu yang tak tampak didepannya. Entah dia membelai apa.
Suatu hari saya bercerita pada salah seorang teman tentang keadaan Tayo, kami tergabung dalam kajian yang sama. Kebetulan teman saya ini konon punya sensitivitas terhadap hal-hal spiritual. Dia bisa merasakan apa yang tidak bisa orang lain rasakan. Teman saya ini, Ira mengatakan hal mirip, bahwa Tayo memiliki teman-teman istimewa, salah satu diantara anak kecil perempuan. Namanya, mbak Anis. Mbak Anis ini yang salah satunya suka mengajak Tayo bermain. Termasuk saat Tayo mengelus-elus sesuatu didepannya, konon saat itu dia bermain-main dengan rambut temannya itu! Tapi teman saya ini mengatakan, tidak perlu khawatir karena teman-teman Tayo ini tidak membahayakan. Mereka hanya suka bermain. Teman saya meminta untuk mengirimkan Alfatihah untuk teman-teman istimewa Tayo. Dia juga menyarankan agar rumah yang ditempati adik saya dibersihkan terutama mainan anak-anak di lantai 2. Mbak Ira padahal belum pernah ke rumah adik saya, jadi tidak tahu ada tumpukan mainan anak-anak disana. Dia menyebut, gangguan pada Tayo akan hilang saat dia sudah bisa bicara dan berjalan.
Akhirnya, berita tentang Tayo ini juga sampai ke keluarga besar ayah saya. Suatu hari sepupu saya membawa temannya yang konon bisa membersihkan energi di tubuh Tayo. Tayo diberi air putih untuk diusapkan ke tubuhnya serta ditepuk punggungnya. Konon itu untuk menutup kemampuan Tayo menarik teman-teman istimewanya. Teman sepupu saya ini bercerita bahwa ada 5 teman yang mengikuti Tayo. Dan bentuk mereka seram. Lalu kenapa Tayo tidak takut? Konon teman-temannya itu tidak memperlihatkan wajah aslinya pada Tayo, tapi teman sepupu saya itu bisa melihatnya. Dia juga menyampaikan saran yang mirip, bacakan alfatihah pada teman Tayo.
Nasihat demi nasihat terus kami terima tentang keistimewaan Tayo. Lalu setelah dibersihkan apakah teman-teman Tayo hilang?
Jawabannya tidak alias belum. Terkadang Tayo masih melihat sesuatu di plafon. Tapi pola tidurnya saat ini jauh lebih teratur. Kami juga lebih banyak mengajak Tayo berkomunikasi. Adik saya membersihkan rumahnya dari berbagai benda yang konon adalah ‘pagar’ rumah. Dulu rumah yang dia tempati adalah rumah mertuanya. Sang mertua inilah yang memasang ‘pagar’ dengan harapan tentu saja keadaan rumah jadi lebih aman. Namun pada kenyataannya, justru benda-benda begini bisa malah menarik energi negatif. Cukup Allah lah yang kita jadikan tempat berlindung. Tak ada keraguan!
Tayo mungkin satu dari sekian banyak anak yang secara motorik tidaklah istimewa, tapi dia punya keistimewaan lain,yakni teman-temannya. Namun tentu saja hal itu tidak ingin kami biarkan. Dulu kadang kami masih melihat Tayo melambaikan sesuatu pada ruang kosong. Kadang dia tiba-tiba menoleh seperti ada yang memanggil padahal saat saya panggil dia tidak merespon. Kami anggap itu hal yang biasa. Yang jadi pertanyaan apa yang membuat Tayo bisa menarik teman-teman istimewa? Apakah benar karena dia punya bakat? Entahlah. Tapi kurangnya stimulasi dan komunikasi bisa jadi penyebab. Orangtua sekarang banyak yang menyerahkan pengasuhan anaknya pada smartphone dan televisi. Saya sendiri juga kadang seperti itu. Anak-anak saya mungkin tidak seperti Tayo yang berteman dengan yang tak kasat mata. Tapi anak-anak saya sempat mengalami kesulitan berkonsentrasi dan suka melamun pada saat TK. Menurut bunda TK nya itu biasanya disebabkan oleh dampak gadget dan televisi.
Mungkin ada teman-teman yang punya anak-anak istimewa seperti Tayo?
