Rabu, 08 Januari 2020

Tayo dan 'Teman-teman Istimewanya'

Namanya Athaya Jaler Maulana, kami biasa memanggilnya Athayo atau Tayo, seperti nama serial kartun di TV. Tayo ini anak adik bungsu saya. Dia anak yang lucu, berkulit putih, dengan bibir tebal seperti bibir ibunya dan alis tipis melengkung seperti alis ayahnya. Selain lucu, Athayo kecil juga bukan anak yang rewel dan manja. Seperti anak-anak kecil lain Tayo sangat suka kartun di youtube. Ya maklum, anak zaman now. Pokoknya tidak ada yang aneh dengan Tayo. Cuma ada satu hal yang menjadi ganjalan yakni pertumbuhan Tayo kecil yang cenderung agak lambat dibandingkan anak seusianya. Hingga usia 1,5 tahun, Tayo belum berjalan dan belum bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas.

Suatu hari adik saya mengeluh Tayo berhari-hari susah tidur. Di malam hari, dia sering terjaga dan baru tidur diatas jam 12 malam. Tayo bahkan pernah tidur jelang subuh. Padahal Tayo di siang hari tidur hanya sebentar, kadang sore tidak tidur. Tapi saat malam hari, Tayo sering terjaga dengan energi yang masih full. Kalau ibunya mengantuk, Tayo digendong ayahnya dan disetelkan kartun di youtube. Bila sudah menonton video youtube, Tayo bisa fokus berlama-lama. Orangtuanya pun tidak terlalu khawatir dengan kebiasaan Tayo itu. Kalaupun rewel, itu tandanya Tayo sudah mengantuk, lapar atau buang air. Soal kebiasaannya begadang di malam hari, kami semua mempercayai Tayo hanya mengalami anomali siklus tidur dan nanti akan kembali tidur di jam normal seperti anak-anak lain.

Orangtua Tayo justru mulai khawatir dengan perkembangan motorik Tayo. Pada usia 1 tahun Tayo bahkan baru mulai belajar duduk. Bukan hanya itu, pertumbuhan giginya pun lebih lambat dibandingkan anak seumurnya. Diapun dibawa ke terapis untuk mengetahui permasalahan dengan tumbuh kembangnya yang cenderung lambat. Menurut terapis, itu karena Tayo kurang stimulasi sehingga dia lambat berjalan dan lambat bicara. Otot-otot kakinya masih lemas sehingga membutuhkan terapi khusus. Ya, jangankan belajar berjalan, Tayo kecil belum mau berdiri. Dia lebih suka mengesot. Sang nenek alias mertua adik saya tidak tinggal diam. Berbagai cara ditempuh untuk melatih cucunya berjalan, mulai dari melatih berdiri hingga disabet welut. Cara terakhir itu dipercaya sebagian orang Jawa bisa membuat seorang anak segera berjalan.

Tayo suka menunjuk plafon kamar. Melihat siapa dia?

Lambatnya perkembangan motorik Tayo belum selesai, aktivitas tidur Tayo pun masih belum menunjukkan perubahan. Satu hal yang tak biasa adalah kebiasaan Tayo melihat plafon kamar. Dia bisa berlama-lama melihatnya. Dan kebiasaannya itu sudah dilakukan sejak kecil. Awalnya ini dianggap hal yang biasa. Entah bagaimana awalnya, suatu hari mertua adik saya yang berprofesi guru memanggil mantan muridnya yang konon punya kemampuan lebih alias indigo. Oleh anak indigo inilah Tayo disebut memiliki ‘teman-teman’ yang mengajaknya bermain sehingga selalu terjaga di malam hari. Teman-teman ini disebutkan diperoleh Tayo dari jalan-jalan. Yang mengejutkan menurut si anak indigo ini Tayo juga punya kecenderungan indigo sehingga dia ‘menarik’ bagi ‘teman-teman’ tak kasat matanya.  

Antara percaya tidak percaya, adik saya mengingat-ingat kembali keanehan-keanehan yang dilakukan anaknya saat begadang. Tayo sejak bayi suka melihat langit-langit kamarnya. Kadang dia mengulurkan tangannya ke satu titik di plafon kamar seperti tengah memanggil burung. Suatu malam Tayo bahkan menunjuk pinggiran tempat tidur seolah tengah bicara dengan seseorang. Tentu saja tidak ada orang di pinggir tempat tidur. Di rumah itu hanya ada adik saya, suaminya dan Tayo. Entah siapa yang ditunjuk Tayo.


Konon, pada titik tertentu anak-anak memang memiliki teman imajinasi alias imaginary friends. Mungkin itu pula yang terjadi pada Tayo. Ken, anak kedua saya juga punya sensitivitas tersendiri pada hal-hal seperti ini. Pernah saat menginap di rumah mertua, Ken menunjuk di depan kamar mandi katanya ada monyet. Kebetulan, rumah mertua ini tinggal di daerah dekat perbukitan Gunung Kidul yang dulunya adalah hutan belantara. Ken juga sempat tidak mau tidur di lantai atas rumah kami pasca renovasi tanpa alasan jelas.

Bahayakah teman-teman istimewa Tayo?

Kejadian demi kejadian membuat kami semua lebih peka pada aktivitas Tayo. Setiap kali Tayo melakukan sesuatu yang aneh, adik saya mengirimkannya ke saya. Suatu malam saya ditunjukkan video Tayo duduk, tampak jelas dia mengantuk, tapi dia nampak menahan kantuknya dan duduk melihat pada titik kosong di depannya. Kali lain dia tampak tidur telentang, matanya fokus menatap ke titik di plafon. Mamanya memanggilnya namun tak dihiraukan. Tayo baru ‘sadar’ saat mamanya mengkitik-kitik perutnya. Tayo juga punya kecenderungan kurang merespon saat dipanggil namanya. Ibu saya awalnya tidak percaya, sampai suatu saat Tayo main ke rumah saya. Saat kami berkumpul, Tayo asyik bermain sendiri. Tangannya tampak membelai-belai sesuatu yang tak tampak didepannya. Entah dia membelai apa.

Suatu hari saya bercerita pada salah seorang teman tentang keadaan Tayo, kami tergabung dalam kajian yang sama. Kebetulan teman saya ini konon punya sensitivitas terhadap hal-hal spiritual. Dia bisa merasakan apa yang tidak bisa orang lain rasakan. Teman saya ini, Ira mengatakan hal mirip, bahwa Tayo memiliki teman-teman istimewa, salah satu diantara anak kecil perempuan. Namanya, mbak Anis. Mbak Anis ini yang salah satunya suka mengajak Tayo bermain. Termasuk saat Tayo mengelus-elus sesuatu didepannya, konon saat itu dia bermain-main dengan rambut temannya itu! Tapi teman saya ini mengatakan, tidak perlu khawatir karena teman-teman Tayo ini tidak membahayakan. Mereka hanya suka bermain. Teman saya meminta untuk mengirimkan Alfatihah untuk teman-teman istimewa Tayo. Dia juga menyarankan agar rumah yang ditempati adik saya dibersihkan terutama mainan anak-anak di lantai 2. Mbak Ira padahal belum pernah ke rumah adik saya, jadi tidak tahu ada tumpukan mainan anak-anak disana. Dia menyebut, gangguan pada Tayo akan hilang saat dia sudah bisa bicara dan berjalan.

Akhirnya, berita tentang Tayo ini juga sampai ke keluarga besar ayah saya. Suatu hari sepupu saya membawa temannya yang konon bisa membersihkan energi di tubuh Tayo. Tayo diberi air putih untuk diusapkan ke tubuhnya serta ditepuk punggungnya. Konon itu untuk menutup kemampuan Tayo menarik teman-teman istimewanya. Teman sepupu saya ini bercerita bahwa ada 5 teman yang mengikuti Tayo. Dan bentuk mereka seram. Lalu kenapa Tayo tidak takut? Konon teman-temannya itu tidak memperlihatkan wajah aslinya pada Tayo, tapi teman sepupu saya itu bisa melihatnya. Dia juga menyampaikan saran yang mirip, bacakan alfatihah pada teman Tayo.

Nasihat demi nasihat terus kami terima tentang keistimewaan Tayo. Lalu setelah dibersihkan apakah teman-teman Tayo hilang?

Jawabannya tidak alias belum. Terkadang Tayo masih melihat sesuatu di plafon. Tapi pola tidurnya saat ini jauh lebih teratur. Kami juga lebih banyak mengajak Tayo berkomunikasi. Adik saya membersihkan rumahnya dari berbagai benda yang konon adalah ‘pagar’ rumah. Dulu rumah yang dia tempati adalah rumah mertuanya. Sang mertua inilah yang memasang ‘pagar’ dengan harapan tentu saja keadaan rumah jadi lebih aman. Namun pada kenyataannya, justru benda-benda begini bisa malah menarik energi negatif. Cukup Allah lah yang kita jadikan tempat berlindung. Tak ada keraguan!

Tayo mungkin satu dari sekian banyak anak yang secara motorik tidaklah istimewa, tapi dia punya keistimewaan lain,yakni teman-temannya. Namun tentu saja hal itu tidak ingin kami biarkan. Dulu kadang kami masih melihat Tayo melambaikan sesuatu pada ruang kosong. Kadang dia tiba-tiba menoleh seperti ada yang memanggil padahal saat saya panggil dia tidak merespon. Kami anggap itu hal yang biasa. Yang jadi pertanyaan apa yang membuat Tayo bisa menarik teman-teman istimewa? Apakah benar karena dia punya bakat? Entahlah. Tapi kurangnya stimulasi dan komunikasi bisa jadi penyebab. Orangtua sekarang banyak yang menyerahkan pengasuhan anaknya pada smartphone dan televisi. Saya sendiri juga kadang seperti itu. Anak-anak saya mungkin tidak seperti Tayo yang berteman dengan yang tak kasat mata. Tapi anak-anak saya sempat mengalami kesulitan berkonsentrasi dan suka melamun pada saat TK. Menurut bunda TK nya itu biasanya disebabkan oleh dampak gadget dan televisi.


Mungkin ada teman-teman yang punya anak-anak istimewa seperti Tayo?





Kamis, 02 November 2017

My Maids My Adventure: Dari yang Soleha Sampai yang Hidupnya Penuh Drama


Kalau dipikir-pikir, saya sudah lebih dari 5 kali ganti pembantu rumah tangga. Dari sejak anak pertama saya usia 2 tahunan dan adiknya masih bayi sampai sekarang si sulung El berusia 7 tahun dan si kecil Ken berusia 5 tahun, mereka sudah diasuh oleh setidaknya 5 orang pembantu, tidak termasuk nenek saya.

Nyari pembantu itu memang gampang-gampang susah, mirip cari jodoh. Kadang kita tanpa sadar suka membandingkan satu pembantu dengan pembantu lain, yah mirip-mirip kayak orang pacaran. Yang pasti tiap-tiap pembantu punya keunikan sendiri-sendiri. Here goes my story…

Pembantu pertama saya namanya mbak Nana. Orangnya setengah tua, anaknya 4 atau 5 dan ada yang masih kecil. Si mbak Nana ini punya kelebihan yakni sangat rapi dalam hal menyeterika. Selain itu dia juga pintar ngerokin orang dan kerokannya nggak sakit. Namun lama-lama dia mulai memperlihatkan sifat aslinya seperti pinjam uang duluan (maklum suaminya nggak kerja dan anak  mereka banyak) serta ijin dengan berbagai alasan. Alhasil hubungan kami hanya bertahan sekitar 1 bulan.

Pembantu berikutnya sebut namanya mbak Etni. Orangnya masih muda, anaknya ada dua. Sebenarnya si mbak ini menjadi pembantu bukan karena terdesak keadaan. Penghasilan suaminya yang bekerja sebagai satpam di sebuah dealer kendaraan, tampaknya cukup lumayan. Dia pun tinggal di perumahan seperti perumahan saya walaupun rumahnya lebih kecil. Kemana-mana dia membawa motor Yamaha Mio baru. Motornya jauh lebih bagus dari punya saya saat itu, yakni Yamaha Vega keluaran 2010. Mbak Etni ini membawa serta dua anaknya saat bekerja pada saya. Dia ijin mengantar jemput anaknya. Kelak ini yang menjadi salah satu faktor putusnya hubungan kami. Sebagai sesama ibu muda mbak Etni ini malah berasa kayak teman atau tetangga saya. Gimana enggak, dia tidak segan ‘nembung’ alias meminta barang yang dianggapnya tidak terpakai di rumah saya. Pendek kata dia tidak cocok jadi pembantu dan hubungan kami pun putus hanya dalam hitungan 3 bulanan. Terlebih saat itu nenek saya yang saat itu masih ikut saya tidak cocok dengan si mbak. Satu hal yang saya ingat dari mbak Etni bahwa dia soleha. Dia selalu mendendangkan sholawat saat menggendong Ken. Sekarang dia berprofesi sebagai guru TK dan tak segan bercerita pada orang-orang bahwa dulu dia yang momong anak-anak saya.

Lepas dari mbak Etni, hati saya berlabuh pada mbah Yem alias mbah Pariyem. Sampai sejauh ini, mbah Yem bisa dikatakan sebagai pembantu favorit saya dan saya susah move on dari dia, ha ha ha.. Orangnya sudah berusia 50 an saat ikut saya. Lugu, tidak banyak bicara dan sabar dengan anak-anak. Maklum mbah Yem sendiri juga sudah punya cucu yang tinggal diluar kota. Selain sabar, mbah Yem ini juga tidak suka bergosip. Pembantu idaman banget ga sih? Mbah Yem ini juga punya kelebihan lain yakni irit dalam menggunakan segala kebutuhan rumah tangga seperti sabun, pewangi pakaian dan lain sebagainya. Pokoknya pangerten gitulah, seolah dia adalah bagian dari keluarga kami. Namun semanis apapun hubungan kami toh harus berakhir juga. Seperti kata bapak saya, sebaik-baik pembantu, mereka adalah orang lain yang suatu saat harus kita lepaskan. 2 Tahun hubungan kami bertahan, mbah Yem minta putus karena harus mengasuh cucu. Ah mbah Yem, kau tega mbah tega…

Kepergian mbah Yem membuat kami semua kehilangan termasuk ibu saya. Kami pun percaya bahwa takkan ada yang dapat menggantikan posisi mbah Yem di hati kami. Namun life goes on, petualangan dengan pembantu pun berlanjut dengan kehadiran mbah Tutik. Bisa dibilang mbah Tutik ini asisten rumah tangga saya yang paling dramatis kehidupannya. Orangnya setengah baya, kalau berbicara terlihat tegas. Mungkin ketularan suaminya yang seorang pensiunan AURI. Sebagai isteri pensiunan logikanya mbah Tutik ini tidak perlu hidup kesrakat. Namun apa daya Mbah Tutik ini punya latar belakang perekonomian keluarga yang berantakan. 3 Anaknya, laki-laki semua, tak satupun mampu mengangkat perekonomian keluarga. Jangankan membantu orang tua, ketiga anaknya masih hidup menumpang dengan mbah Tutik dan suaminya. Suami mbah Tutik ini sempat sakit liver, tak lama anaknya kecelakaan dan patah kaki. Lengkaplah sudah penderitaan mereka. Uang pun terkuras habis dan harus berutang. Tak lama anak sulungnya berpisah dari isterinya karena terjerat biduanita. Eh belum habis penderitaannya, si sulung buta matanya. Inilah yang membuat mbah Tutik banting setir menjadi pembantu. Uniknya, setiap menjemput anak saya, dia bilang dia neneknya. Ya sudahlah he he he… Sebagai seorang ART mbah Tutik ini rapi dan rajin, termasuk rajin bolos he he he. Punya riwayat darah tinggi dan sakit gigi, membuatnya sering sekali tidak masuk dengan alasan sakit. Awalnya sih kami maklumi, sampai suatu hari dia minta ijin cuti untuk menunggui menantunya yang akan lahiran. Kami terpaksa mengakhiri hubungan kerjasama kami walaupun mbah Tutik bersikeras ingin kembali bekerja pada kami. Gimana lagi, wong puasa sebulan juga minta cuti terus balik sesudah lebaran. So,  bye bye mbah Tutik…

Petualangan kami dengan pembantu masih berlanjut. Pembantu kelima ini sampai saat ini masih bekerja dengan kami (semoga dia ga lagi browsing dan tahu saya lagi ngrasani dia mwahahaha…). Namanya sebut saja bunga. Eh ngga ding, namanya mbak Dwi. Usianya masih muda, sekitar 24 tahun, anaknya umur 6 tahun. Ya, si mbak ini tampaknya penggemar Agnes Mo karena dia nikah dini. Mbak Dwi ini suka pakai celana pendek kemana-mana. Salah satu hal yang tidak dipunyai pembantu-pembantu saya sebelumnya adalah suaranya. Mbak Dwi ini kalau ngomong, satu RT denger semua. Kenceng banget. Tak lama setelah dia bekerja saya resign dari kantor. Otomatis saya tahu kinerjanya setiap hari. Tampaknya mbak Dwi ini suka segala sesuatu yang over. Kalau ngomong suaranya over, masak nasi over banyaknya, makai sabun over banyaknya dan over-over lainnya. Yah, namanya orang tahu barang tinggal pakai mungkin kurang bisa diajak hemat.

Punya 5 pembantu dengan karakter berbeda-beda saya belajar satu hal bahwa perempuan itu adalah makhluk yang kuat dan dapat diandalkan. Tak segan turun langsung menegakkan periuk dapur saat keadaan memaksanya meskipun itu berarti harus menjadi pembantu. Saya merasa lebih bersyukur karena lebih beruntung dari sebagian besar mereka, setidaknya dari segi ekonomi. Jadi saya pun memperlakukan mereka sebagai partner dan bukan pembantu. Mungkin Anda diluar sana juga merasakan hal yang sama?   

Minggu, 20 Desember 2015

Bekencan dengan buku-buku

Saya kembali pada kebiasaan lama saya: berkencan dengan buku alias membaca.
Membaca itu esensi dari hidup. Terutama kalau Anda adalah orang yang tidak banyak bepergian atau bertemu bermacam orang, seperti saya. Membaca itu membuat persepktif kita selalu lebih luas, cara pandang kita lebih terbuka dan kadangkala membuat kita merasa jauh lebih baik akan diri kita atau lingkungan kita. Maka memilih bacaan yang tepat adalah sangat penting bagi orang yang kurang banyak pengalaman seperti saya.

Lalu bacaan apa yang menarik? Sebagai makhluk masa kini yang rentan galau dan stres, pilihan saya jatuhkan pada buku-buku spiritualitas dan psikologi. Bagi saya membaca buku-buku seperti itu seperti makan dengan vitamin yang lengkap, bisa mengobati hati yang kadang penyakitan oleh urusan duniawi. Jangan bayangkan buku-buku yang berat dan folosofis atau buku 'ndakik-ndakik' yang membuat pusing. Buku-buku bacaan saya adalah buku-buku ringan macam buku self-help. 

Biasanya kalau sudah baca, saya tidak peduli tempat atau kondisi, bisa disela kerja, disela jualan, di mobil, sambil ngeloni thole dan kadangkala saat di WC. Walaupun yang terakhir itu konsentrasi seringkali terpecah antara mengurus yang atas dan dibawah.

Entah kenapa saya selalu merasa buku adalah salah satu kawan yang paling baik yang paling bisa mengerti, menolong serta menaikkan rasa percaya diri saya. Itu bahkan terjadi saat saya akan melahirkan anak pertama saya. Saat ibu-ibu yang lain mungkin mempersiapkan tas perlengkapan bayi dan dirinya selama di rumah sakit, saya membawa serta buku Tony Robbins 'Awaken The Giant Within.' Entah kenapa, buku itu membuat saya lebih percaya diri. 

Selain buku Tony Robbins, buku favorit saya lainnya adalah Doa Sang Katak karya Anthony De Mello. Bagi saya buku ini sangat simpel, dengan anekdot-anekdot sederhana namun mengena. Tidak butuh daya nalar yang 'ndakik' namun tetap sesuai jaman. 

Sedangkan akhir-akhir ini saya juga tekun 'ngaji' pada Buya Hamka lewat buku 'Tasawuf Modern' - nya. Gara-gara buku itu Hamka jadi next-favourite-author saya terutama setelah banyak search kiprahnya di Google. Buku lainnya adalah karya Dr. Wayne W. Dyer : Spiritual Human. Sebuah buku sederhana yang menjadi most favorite saya akhir-akhir ini. 

Spiritual Human Dr. Dyer telah memberi saya pemahaman baru terutama kaitannya dengan spiritualitas manusia. Salah satu kata-katanya yang mengesankan bagi saya adalah: Jangan bayangkan dirimu sebagai manusia dengan pengalaman spiritual, namun pandanglah dirimu sebagai makhluk spritual dengan pengalaman manusia. 

Nah, itulah sebagian buku favorit saya. Namun tetap saja, saat saya bosan dengan bacaan-bacaan serius itu, saya balik lagi ke 'Memoir of a Geisha-'nya Arthur Golden yang entah sudah berapa kali saya tamatkan, sambil membayangkan kimono-kimono indah Sayuri atau permainya sungai Shirakawa atau ayunya si culas Hatsumomo.

Selamat membaca.

Kamis, 20 Agustus 2015

Hari yang penuh keajaiban

"Rejeki, jodoh, mati semua rahasia Allah. Tapi penyakit adalah (seringkali) berpulang pada cara kita memandangnya."


Dalam hidup banyak hal yang terjadi sampai kadang membuat kita sejenak lupa dengan Sang Maha Pencipta yang mengawasi, mengingatkan dan kadang 'menegur' kita dengan berbagai cara-Nya. Dan akhirnya Dia lah yang juga mengulurkan 'tangan-Nya' untuk menolong kita. Inilah yang saya rasakan beberapa waktu terakhir.

Pada post yang lalu saya sempat memposting tentang 'keluhan' saya saat menghadapi bulan puasa. Sebagai ibu, isteri, pekerja dan pebisnis yang membutuhkan tenaga dan konsentrasi tinggi. Perasan jenuh dan lelah karena harus perfect dalam melakukan itu semua berbuah hikmah yang luar biasa dan sekaligus meyakinkan saya bahwa Allah benar-benar luar biasa dan mencintai umatnya yang pasrah dan ikhlas dengan ketetapannya.

Kejadiannya ketika sekitar 2 minggu lalu, suatu sore menjelang pulang kantor, saya merasa gejala sakit perut yang luar biasa. Perut saya seolah penuh berisi gas, keras dan sangat sakit. Saya pun pulang dan saya kira itu maag biasa. Saya makan dan minum  obat maag, namun seolah tak ada perubahan. Sampai malam sekitar jam setengah sepuluh, saya dan suami memboyong dua balita kami ke dokter dan dokter memberi saya obat maag. Keesokan harinya sakit perut saya perlahan-lahan menghilang.

Sepekan setelah kejadian itu saya terserang demam mirip gejala typus tapi tidak tinggi dan tidak disertai gejala lainnya, hanya sedikit lemah biasa. Ketika demam memasuki hari ketiga saya berobat ke dokter umum. Namun obat-obatan dari dokter ini kurang membantu. Hari kelima demam saya cek darah DBD dan widal ternyata negatif, saya pun ke internis yang buka praktik tak jauh dari kantor, namanya dr. Wahyu Aji SpPD dan beliau menduga ada infeksi di organ pencernaan saya serta meresepkan 2 obat antibiotik dan suplemen. Dokter Aji ini sangat baik, mudah diajak ngobrol dan memberi saya nasihat yang menenangkan. Saya pun pulang dan merasa lebih baik karena telah mengantongi obat dari internis.

Hari kedua pasca berobat ke internis, seorang sepupu berkunjung. Pendek kata setelah ngobrol dengannya, dia 'mendiagnosa' saya punya batu empedu, karena dia juga mengalaminya dan gejalanya mirip dengan yang saya alami. Saat itu saya panik dan nyaris putus asa. Bayangan saya sudah macam-macam. Mulai dari operasi, sampai ketakutan akan komplikasinya, kanker, penyumbatan usus dan lain-lain. Untunglah orangtua saya---yang segera datang, begitu mendengar saya tidak enak badan---membesarkan hati saya. Mereka membantu mengurus anak-anak saya yang salah satunya juga terserang flu.

Selagi demam, sambil berbaring, saya browsing dan browsing tentang gejala yang saya alami dan memang mirip dengan gejala batu empedu yang disebabkan salah satunya oleh penumpukan kolesterol. Dalam kepanikan dan keputusasaan saya, ibu saya berujar: "Sudah wuk, positif thinking saja, tiap orang punya daya tahan tubuh sendiri-sendiri. Terlalu khawatir, terlalu memikirkan makanan, terlalu membatasi itu tidak baik. Sudah. Makan adalah pasrah." Kalimat terakhir beliau menghentak saya. Ya, makan adalah bentuk kepasrahan kita pada Yang Maha Kuasa. Apakah makanan akan jadi pengobat atau racun bagi tubuh kita.

Sedikit dikuatkan oleh spirit yang ditularkan oleh ibu saya, saya berangsur tenang. Selama demam otomatis saya banyak istirahat, saya baca-baca buku-buku kesayangan saya lagi seperti novel-novel: Da Vinci Code, memoir of A Geisha sampai buku self-help Panduan Relaksasi dan Reduksi Stres. Saya praktikkan beberapa topik didalamnya seperti pernafasan dalam dan teknik-teknik menolak ide tak rasional untuk mengatasi ketakutan-ketakutan yang selama ini saya alami.

Di suatu sore hari ketiga pasca ke internis, saat yang lain menengok adik ipar saya yang melahirkan, saya sendirian di rumah. Saya memang menolak ikut karena tubuh saya masih demam. Seusai wudhu, sambil menahan tubuh yang dingin karena air, saya sholat Ashar lalu berdoa, cukup lama saya bertafakur. Saya ucapkan terima kasih pada Allah, berkali-kali saya bertasbih menyebut nama-Nya dan kebesaran-Nya. Saya mengingatkan diri saya betapa beruntungnya saya, memiliki orangtua yang berusia 60 dan 70 tahun yang ikhlas menempuh perjalanan jauh demi menengok anaknya dan cucu-cucunya. Saya menghitung satu persatu organ tubuh saya seraya mengucapkan terima kasih karena telah berfungsi menopang kehidupan saya. Saya ingat, dalam tafakur saya sore itu, saya berterima kasih atas kaki yang saya miliki yang dapat berfungsi dengan baik yang bagi orang lain mungkin berfungsinya kaki adalah impian, saya berterima kasih atas dua balita yang saya miliki yang saya sering kewalahan dan sering saya marahi karena bagi sebagian orang mereka adalah impian. Saya berterima kasih atas suami dan orangtua yang mendampingi saya karena bagi sebagian orang lain, itu adalah impian. Saya makin menyadari bahwa hidup saya bagi sebagian orang lain adalah impian.

Air mata bercucuran di kedua mata saya, saya menangis sepuasnya, bukan karena sedih akan penyakit saya, namun karena perasaan yang kecil seorang mahluk didepan Tuhannya. Saya merasa selama ini saya kurang bersyukur karena saat dikaruniai sehat, saya justru kurang menghargainya dan kini ketika ada anggota tubuh yang kurang berfungsi saya menyebutkan sebagai bentuk protes tubuh saya. Saya saat itu hanya meminta: Ya Allah berilah saya keringat... Karena selama demam, saya hanya merasakan dingin di kulit saya tapi panas dalam tubuh saya. Ya permintaan saya sangat sederhana. Entah karena lelah berdoa sambil menangis, dahi saya mengeluarkan sedikit air, lalu air juga ada di dada saya. Saya sadari itu adalah keringat. Saya pun melakukan sujud syukur. Ajaib, tapi ini memang benar: saya berkeringat! Sesuatu yang dulu saya sebal, kini sangat saya syukuri. Allah mengabulkan doa sederhana saya begitu cepat. Meskipun demam masih saya rasakan.

Sore itu menjadi sore yang penuh keajaiban bagi saya. Ada banyak hal kecil yang membuat saya stres belakangan, menjadi sedikit terlupakan sore itu. Sambil masih mengenakan mukena, saya pun ke ruang tamu, menikmati sore dengan masih komat kamit berdoa, menasihati diri saya sendiri, saya ingatkan kedudukan saya sebagai makhluk kecil-Nya. Saya mengulang doa sesudah sholat ashar sambil memandang sore jingga dari pintu rumah saya. Saya benar-benar memanfaatkan sore tenang sendiri tanpa siapapun untuk mendekat pada-Nya.

Malamnya ketika anak-anak tidur, saya berbaring-baring sambil bercerita dengan ibu saya. Saya ungkapkan segala uneg-uneg saya, rasa stres mengurus anak, suami dan penyakit saya. Saya curahkan juga permasalahan yang terjadi di kantor. Malam itu baper dan curcol ada dimana-mana. Begitu kata anak muda jaman sekarang. Malam itu perasaan saya benar-benar tumpah, sesekali kami tertawa dan membelai tubuh Ken si kecil saya yang tengah batuk dan flu. Saya merasa sangat bersyukur memiliki ibu seperti beliau. Saya sangat menyadari kami kadang memiliki perbedaan pendapat dan saya beberapa kali marahan dengan beliau. Tapi malam itu kami bisa bicara seperti dua wanita dewasa yang sudah berumah tangga. Berbicara berbagai permasalahan seperti layaknya teman. Sesekali saya juga mendengar uneg-uneg ibu tentang papa yang kadangkala juga menimbulkan kejengkelannya.

Dalam nasihatnya ibu mengingatkan kembali tentang masalah kesehatan yang beberapa waktu terakhir menjadi kekhawatiran saya. Ibu mengingatkan untuk pasrah, ikhlas, positif thinking dan dengan setengah bergurau, ibu mengatakan, kalau Allah menghendaki mati ya mati saja tidak peduli punya penyakit atau tidak.  "Wuk (panggilan sayang beliau pada saya), sudahlah ditekuni dulu obatnya, karena efek obat biasanya tampak setelah 3 hari." Dan sesudah itu kami tertidur.

Keajaiban ternyata tak berhenti sampai disitu, ketika saya bangun sekitar jam 01.30 dinihari, saya merasakan hawa familiar pada kulit saya. Saya bangun dan saya menyentuh lengan saya, suhunya normal! Tepat seperti dugaan ibu, tepat sekitar 3 hari pasca minum obat dari internis, obat itu menunjukkan efeknya. Saya pun kembali dipenuhi rasa syukur tak terhingga. Betapa doa ibu sangat sangat luar biasa dan Allah benar-benar mendengar doa beliau. Sekali lagi saya merasa beruntung, masih memiliki ibu yang sehat yang mendoakan saya. Selain ikhtiar yang saya lakukan, ternyata obat itu bekerja tepat ketika saya sudah waktunya masuk kerja kembali.

Hingga pagi tadi, tubuh saya sudah mulai segar, demam sudah hilang meskipun masih sedikit lemas. Akhirnya saya akan menutup post kali ini dengan sebuah nasihat yang dikirimkan oleh ibu saya:

Hidup adalah BELAJAR

Belajar bersykur meski tak cukup

Belajar ikhlas meski tak rela

Belajar taat meski berat

Belajar memahami meski tak sehati

Belajar sabar meski terbebani

Belajar setia meski tergoda

Belajar memberi meski tak seberapa

Belajar mengasihi meski disakiti

Belajar tenang meski gelisah

Belajar percaya meski susah

Belajar tabah meski badai cobaan datang menerpa

Mari saling belajar dan temukan indahnya makna kehidupan



 





Rabu, 08 Juli 2015

Curhat Emak Elkeno: Ramadhan

Tahun ini menjadi Ramadhan yang istimewa bagi saya. Itu karena saya akhirnya mengurus semuanya sendiri mulai dari masak, mengatur menu, mengurus olshop/offshop Elkeno, mengurus suami, anak dan bekerja. Dan ternyata, semangat saya melakukan semua itu naik turun bak detak jantung.

Ya, akhirnya saya merasakan indahnya jadi ibu rumah tangga, pebisnis (meskipun baru kelas medioker) dan pekerja sejati setelah nenek saya yang selama 5 tahun terakhir ikut saya memutuskan ikut bulek saya di Jakarta untuk mengurus bayinya.

Awalnya semangat banget, karena dalam bayangan saya, saya bisa mandiri, mengatur rumah tangga sendiri dan menunjukkan kekuatan saya sebagai wanita sejati. Akhirnya kami memiliki rumah untuk kami sendiri, bisa apa saja tanpa diomeli nenek. Tapi ternyata, tak semudah itu. (Komentar pembaca: Hmmm... sudah kuduga.)

Menjadi ibu rumah tangga sejati is a full time gig. Mungkin klise ya. Tapi saya merasakan sendiri betapa energi saya seolah hampir selalu terkuras, lebih-lebih saat bulan Ramadhan. Selama ini saya nyaris selalu tidak terbebani dengan menyiapkan sahur dan take control of menu. Gak pernah. Ya, semuanya sudah ada yang atur. Dulu ibu saya, lalu saat berumah tangga nenek saya. Dan sekarang semuanya di tangan saya. Variasi menu, takjil dan lain-lain itu kewajiban saya. Dan itu semakin jadi tantangan sendiri karena mas suami adalah seorang picky-eater alias pemilih dalam hal makan.

So, sejak malam, bukannya pusing mikir kerjaan saya mikir menu apa ya sore nanti buat buka, sahurnya masak apa ya? Beli sayur terus diangetin saat sahur aja enak gak ya? Sayurnya apa? Bening atau lodeh? Lauknya masak ayam lagi? Tempe atau tahu? Bisa saja sih, tapi jarang disentuh suami. Telor dadar atau ceplok? Masak tiap hari? Gimana kalau kolesterolan. Itulah pertanyaan-pertanyaan yang kerap berputar di kepala saya. Maklum, saya dan suami punya selera makan berbeda. Dia suka makanan tradisional yang serba santan, saya suka sayur bening dan chinesse foods.



Pagi seusai sahur dan solat subuh, saya tidur sebentar lalu bangun sekitar jam 7 pagi saat tukang sayur membunyikan klaksonnya. Dan setelah berkontemplasi beberapa menit, saya harus putuskan masak apa buat buka nanti dan membeli bahannya di tukang sayur. Persiapan ke kantor jam 8 pagi gruduk sana sini, sambil mempersiapkan dagangan atau packing order jilbab harus bisa saya lakukan dalam kurun 30 menit. Seringkali itu pun masih ada saja order yang terlewat. Sampai kantor, rutinitas kantor seperti menentukan tema untuk diskusi di radio keesokan harinya dan lain-lain saya lakukan kadangkala dengan setengah konsentrasi. Pikiran saya yang terbiasa multithinking ini mikir soal THR, paket lebaran dan angpao serta sederet hal lain. Sulit sekali berkonstrasi pada satu hal.

Ramadhan tahun ini memang istimewa. Namun saya sadari bahwa dari tahun ke tahun justru nilai ibadah saya rasa makin berkurang kualitasnya. Sampai masuk ke 10 hari terakhir ini saya baru tarawih 1 kali, mengaji juga tidak lagi setiap hari. Ya, tapi apapun itu saya coba jalani sebisanya. Ramadhan bukan hanya soal menu apa untuk sahur dan berbuka tapi keikhlasan kita melakukan semuanya sembari menjalankan ibadah yang diperintahkan Sang Maha Pemberi Rejeki. Saya yakin Allah memahami dan berharap sekali insya Allah apabila dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan saya akan lebih siap. Happy working moms!

Senin, 22 Desember 2014

Tips Berhijab untuk Wajah Bulat

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Halo muslimah...
Saya seringkali ditanya customer Elkenohijab, 'Cocok gak ya kalo saya pake? Kan wajah saya bulat?' Atau 'Iya bagus kalo dipake mbak, soalnya kan wajahnya lonjong...' setiap kali mereka akan membeli hijab. Memang salah satu hal yang sering menggalaukan ibu-ibu dalam berjilbab adalah terkait bentuk wajah. Padahal wajah lonjong atau bulat atau bahkan kotak sekalipun adalah karunia dari Allah. Dan manusia dikaruniai akal untuk membuatnya terlihat indah.

Nah, kali ini saya akan memberi tips supaya karunia itu yakni wajah bulat atau chubby tetap luwes ketika dibingkai hijab:

1. Jenis jilbab
Saat ini bermacam jilbab yang ditawarkan, baik yang bentuknya pashmina, segiempat, instan atau semi instan. Berikut beberapa panduan untuk si chubby:
a. Jilbab Instan 
Saat ini ada dua jenis jilbab instan yakni yang berpet dan non pet. Bagi yang berwajah chubby, saya sarankan mencati jilbab instan berpet. Kenapa? Konon menurut peragawati senior Ratih Sang, jilbab berpet akan membuat wajah orang Indonesia lebih simetris. Nah, untuk petnya pilihlah yang tidak terlalu lebar, namun juga tidak terlalu sempit. Panjang ujung-ujung petnya usahakan dibawah telinga atau sejajar dengan rahang. Itu akan menyamarkan wajah yang lebar. Selain itu perhatikan juga bentuknya. Usahakan bentuk bawah jilbab instan Anda lonjong atau meruncing. Hindari yang berbentuk datar di bagian bawah.
b. Pashmina atau segiempat.
Dua-duanya bisa dipakai si chubby dengan tidak terlalu banyak variasi pemakaian. Pashmina atau segiempat bisa dipakai dengan atau tanpa inner.

2. Inner
Untuk yang suka memakai inner, pilihan inner saat ini juga amat beragam. Bahkan ada yang disebut inner antem kependekan dari anti tembem. Nah inner seperti ini bisa menyiasati bentuk wajah yang lebar sehingga terkesan lebih tirus.

3. Bahan jilbab
Pilihlah bahan jilbab yang jatuh dan tidak kaku, sehingga kalau dipakai tidak menimbulkan lekuk-lekuk yang akan menambah luas wajah terlihat lebih besar. Contohnya: untuk jilbab segiempat, pilih yang berbahan kain rumana (paris tipis), aneka sifon yang tak licin seperti ceruti, fine atau sejenisnya.Sedangkan untuk jilbab instan, pilih yang berbahan spandek, jersey atau rayon halus.

4. Motif jilbab
Sebisa mungkin pilih motif yang tidak terlalu ramai atau motif yang kecil sehingga fokus pandangan tidak terpusat pada wajah. Warna tidak harus monokrom, asalkan motifnya tidak besar-besar. Atau untuk jilbab segiempat carilah yang motifnya di pinggir, sehingga kalau dipakai bisa membentuk sudut-sudut yang memberi kesan panjang di wajah.

5. Hindari variasi di kepala yang terlalu ramai
Sering kita temukan terutama di pesta-pesta,wanita memakai hijab dengan variasi di kepala entah berupa headband atau variasi menggunakan jilbab lainnya. Untuk yang berwajah chubby, sebisa mungkin variasikan jilbab dengan tidak menggunakan banyak asesoris karena akan memberi kesan 'berat' di kepala sehingga membuat volume kepala terlihat lebih besar yang secara otomatis membuat wajah terlihat lebih lebar.

Itu tips berhijab untuk yang berwajah chubby. Semoga bermanfaat dan memberi rasa percaya diri.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Minggu, 14 Desember 2014

Tips Berhijab untuk Ibu yang Menggendong Balita

Assalamu'alaikum, Wr. Wb....
Menggendong anak menjadi salah satu hal yang 'wajib' dilakukan oleh para ibu. Bagi seorang muslimah hal itu menjadi tantangan tersendiri, terutama apabila Anda memiliki anak yang aktif seperti saya. Kadang, saat rewel, anak menarik jilbab sehingga peniti lepas dan jilbab menjadi tidak berbentuk. Berikut beberapa tips yang semoga bisa membantu:
1. Gunakan jilbab/kerudung yang praktis.
Jilbab instan menjadi salah satu alternatif yang paling aman. Bisa berbentuk pet atau non pet.
2. Gunakan jilbab/kerudung yang berbahan  tebal dengan serat yang kuat.
Apabila Anda menyukai jilbab segiempat atau pashmina, pakailah yang berbahan tebal seperti katun/linen/viscose daripada yang berbahan tipis. Ini untuk mencegah benang kain jilbab menjadi rusak atau robek.
3. Minimalkan penggunaan peniti/pin/jarum pentul.
Pakailah kerudung Anda dengan gaya yang simpel, sehingga tidak memerlukan banyak pin untuk menjaga  bentuk jilbab dan mencegahnya untuk -- secara tidak sengaja-- melukai putera-puteri tercinta.
4. Waspada bros yang memiliki ujung-ujung tajam.
Pilihlah bros yang memiliki bentuk bulat atau tumpul, jangan pilih yang memiliki ujung yang runcing untuk mencegah bros melukai putera-puteri tercinta.
5. Apabila memungkinkan hindari jilbab berpinggiran rawis/non jahit
Jilbab berpinggir rawis rentan tertarik benangnya oleh anak-anak.
6. Gunakan inner.
Inner bermanfaat mencegah rambut terlihat apabila anak Anda rewel dan menarik lepas jilbab.
Selamat mencoba....
Wassalamu'alaikum, Wr. Wb....