Rabu, 08 Juli 2015

Curhat Emak Elkeno: Ramadhan

Tahun ini menjadi Ramadhan yang istimewa bagi saya. Itu karena saya akhirnya mengurus semuanya sendiri mulai dari masak, mengatur menu, mengurus olshop/offshop Elkeno, mengurus suami, anak dan bekerja. Dan ternyata, semangat saya melakukan semua itu naik turun bak detak jantung.

Ya, akhirnya saya merasakan indahnya jadi ibu rumah tangga, pebisnis (meskipun baru kelas medioker) dan pekerja sejati setelah nenek saya yang selama 5 tahun terakhir ikut saya memutuskan ikut bulek saya di Jakarta untuk mengurus bayinya.

Awalnya semangat banget, karena dalam bayangan saya, saya bisa mandiri, mengatur rumah tangga sendiri dan menunjukkan kekuatan saya sebagai wanita sejati. Akhirnya kami memiliki rumah untuk kami sendiri, bisa apa saja tanpa diomeli nenek. Tapi ternyata, tak semudah itu. (Komentar pembaca: Hmmm... sudah kuduga.)

Menjadi ibu rumah tangga sejati is a full time gig. Mungkin klise ya. Tapi saya merasakan sendiri betapa energi saya seolah hampir selalu terkuras, lebih-lebih saat bulan Ramadhan. Selama ini saya nyaris selalu tidak terbebani dengan menyiapkan sahur dan take control of menu. Gak pernah. Ya, semuanya sudah ada yang atur. Dulu ibu saya, lalu saat berumah tangga nenek saya. Dan sekarang semuanya di tangan saya. Variasi menu, takjil dan lain-lain itu kewajiban saya. Dan itu semakin jadi tantangan sendiri karena mas suami adalah seorang picky-eater alias pemilih dalam hal makan.

So, sejak malam, bukannya pusing mikir kerjaan saya mikir menu apa ya sore nanti buat buka, sahurnya masak apa ya? Beli sayur terus diangetin saat sahur aja enak gak ya? Sayurnya apa? Bening atau lodeh? Lauknya masak ayam lagi? Tempe atau tahu? Bisa saja sih, tapi jarang disentuh suami. Telor dadar atau ceplok? Masak tiap hari? Gimana kalau kolesterolan. Itulah pertanyaan-pertanyaan yang kerap berputar di kepala saya. Maklum, saya dan suami punya selera makan berbeda. Dia suka makanan tradisional yang serba santan, saya suka sayur bening dan chinesse foods.



Pagi seusai sahur dan solat subuh, saya tidur sebentar lalu bangun sekitar jam 7 pagi saat tukang sayur membunyikan klaksonnya. Dan setelah berkontemplasi beberapa menit, saya harus putuskan masak apa buat buka nanti dan membeli bahannya di tukang sayur. Persiapan ke kantor jam 8 pagi gruduk sana sini, sambil mempersiapkan dagangan atau packing order jilbab harus bisa saya lakukan dalam kurun 30 menit. Seringkali itu pun masih ada saja order yang terlewat. Sampai kantor, rutinitas kantor seperti menentukan tema untuk diskusi di radio keesokan harinya dan lain-lain saya lakukan kadangkala dengan setengah konsentrasi. Pikiran saya yang terbiasa multithinking ini mikir soal THR, paket lebaran dan angpao serta sederet hal lain. Sulit sekali berkonstrasi pada satu hal.

Ramadhan tahun ini memang istimewa. Namun saya sadari bahwa dari tahun ke tahun justru nilai ibadah saya rasa makin berkurang kualitasnya. Sampai masuk ke 10 hari terakhir ini saya baru tarawih 1 kali, mengaji juga tidak lagi setiap hari. Ya, tapi apapun itu saya coba jalani sebisanya. Ramadhan bukan hanya soal menu apa untuk sahur dan berbuka tapi keikhlasan kita melakukan semuanya sembari menjalankan ibadah yang diperintahkan Sang Maha Pemberi Rejeki. Saya yakin Allah memahami dan berharap sekali insya Allah apabila dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan saya akan lebih siap. Happy working moms!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar