Minggu, 20 Desember 2015

Bekencan dengan buku-buku

Saya kembali pada kebiasaan lama saya: berkencan dengan buku alias membaca.
Membaca itu esensi dari hidup. Terutama kalau Anda adalah orang yang tidak banyak bepergian atau bertemu bermacam orang, seperti saya. Membaca itu membuat persepktif kita selalu lebih luas, cara pandang kita lebih terbuka dan kadangkala membuat kita merasa jauh lebih baik akan diri kita atau lingkungan kita. Maka memilih bacaan yang tepat adalah sangat penting bagi orang yang kurang banyak pengalaman seperti saya.

Lalu bacaan apa yang menarik? Sebagai makhluk masa kini yang rentan galau dan stres, pilihan saya jatuhkan pada buku-buku spiritualitas dan psikologi. Bagi saya membaca buku-buku seperti itu seperti makan dengan vitamin yang lengkap, bisa mengobati hati yang kadang penyakitan oleh urusan duniawi. Jangan bayangkan buku-buku yang berat dan folosofis atau buku 'ndakik-ndakik' yang membuat pusing. Buku-buku bacaan saya adalah buku-buku ringan macam buku self-help. 

Biasanya kalau sudah baca, saya tidak peduli tempat atau kondisi, bisa disela kerja, disela jualan, di mobil, sambil ngeloni thole dan kadangkala saat di WC. Walaupun yang terakhir itu konsentrasi seringkali terpecah antara mengurus yang atas dan dibawah.

Entah kenapa saya selalu merasa buku adalah salah satu kawan yang paling baik yang paling bisa mengerti, menolong serta menaikkan rasa percaya diri saya. Itu bahkan terjadi saat saya akan melahirkan anak pertama saya. Saat ibu-ibu yang lain mungkin mempersiapkan tas perlengkapan bayi dan dirinya selama di rumah sakit, saya membawa serta buku Tony Robbins 'Awaken The Giant Within.' Entah kenapa, buku itu membuat saya lebih percaya diri. 

Selain buku Tony Robbins, buku favorit saya lainnya adalah Doa Sang Katak karya Anthony De Mello. Bagi saya buku ini sangat simpel, dengan anekdot-anekdot sederhana namun mengena. Tidak butuh daya nalar yang 'ndakik' namun tetap sesuai jaman. 

Sedangkan akhir-akhir ini saya juga tekun 'ngaji' pada Buya Hamka lewat buku 'Tasawuf Modern' - nya. Gara-gara buku itu Hamka jadi next-favourite-author saya terutama setelah banyak search kiprahnya di Google. Buku lainnya adalah karya Dr. Wayne W. Dyer : Spiritual Human. Sebuah buku sederhana yang menjadi most favorite saya akhir-akhir ini. 

Spiritual Human Dr. Dyer telah memberi saya pemahaman baru terutama kaitannya dengan spiritualitas manusia. Salah satu kata-katanya yang mengesankan bagi saya adalah: Jangan bayangkan dirimu sebagai manusia dengan pengalaman spiritual, namun pandanglah dirimu sebagai makhluk spritual dengan pengalaman manusia. 

Nah, itulah sebagian buku favorit saya. Namun tetap saja, saat saya bosan dengan bacaan-bacaan serius itu, saya balik lagi ke 'Memoir of a Geisha-'nya Arthur Golden yang entah sudah berapa kali saya tamatkan, sambil membayangkan kimono-kimono indah Sayuri atau permainya sungai Shirakawa atau ayunya si culas Hatsumomo.

Selamat membaca.

Kamis, 20 Agustus 2015

Hari yang penuh keajaiban

"Rejeki, jodoh, mati semua rahasia Allah. Tapi penyakit adalah (seringkali) berpulang pada cara kita memandangnya."


Dalam hidup banyak hal yang terjadi sampai kadang membuat kita sejenak lupa dengan Sang Maha Pencipta yang mengawasi, mengingatkan dan kadang 'menegur' kita dengan berbagai cara-Nya. Dan akhirnya Dia lah yang juga mengulurkan 'tangan-Nya' untuk menolong kita. Inilah yang saya rasakan beberapa waktu terakhir.

Pada post yang lalu saya sempat memposting tentang 'keluhan' saya saat menghadapi bulan puasa. Sebagai ibu, isteri, pekerja dan pebisnis yang membutuhkan tenaga dan konsentrasi tinggi. Perasan jenuh dan lelah karena harus perfect dalam melakukan itu semua berbuah hikmah yang luar biasa dan sekaligus meyakinkan saya bahwa Allah benar-benar luar biasa dan mencintai umatnya yang pasrah dan ikhlas dengan ketetapannya.

Kejadiannya ketika sekitar 2 minggu lalu, suatu sore menjelang pulang kantor, saya merasa gejala sakit perut yang luar biasa. Perut saya seolah penuh berisi gas, keras dan sangat sakit. Saya pun pulang dan saya kira itu maag biasa. Saya makan dan minum  obat maag, namun seolah tak ada perubahan. Sampai malam sekitar jam setengah sepuluh, saya dan suami memboyong dua balita kami ke dokter dan dokter memberi saya obat maag. Keesokan harinya sakit perut saya perlahan-lahan menghilang.

Sepekan setelah kejadian itu saya terserang demam mirip gejala typus tapi tidak tinggi dan tidak disertai gejala lainnya, hanya sedikit lemah biasa. Ketika demam memasuki hari ketiga saya berobat ke dokter umum. Namun obat-obatan dari dokter ini kurang membantu. Hari kelima demam saya cek darah DBD dan widal ternyata negatif, saya pun ke internis yang buka praktik tak jauh dari kantor, namanya dr. Wahyu Aji SpPD dan beliau menduga ada infeksi di organ pencernaan saya serta meresepkan 2 obat antibiotik dan suplemen. Dokter Aji ini sangat baik, mudah diajak ngobrol dan memberi saya nasihat yang menenangkan. Saya pun pulang dan merasa lebih baik karena telah mengantongi obat dari internis.

Hari kedua pasca berobat ke internis, seorang sepupu berkunjung. Pendek kata setelah ngobrol dengannya, dia 'mendiagnosa' saya punya batu empedu, karena dia juga mengalaminya dan gejalanya mirip dengan yang saya alami. Saat itu saya panik dan nyaris putus asa. Bayangan saya sudah macam-macam. Mulai dari operasi, sampai ketakutan akan komplikasinya, kanker, penyumbatan usus dan lain-lain. Untunglah orangtua saya---yang segera datang, begitu mendengar saya tidak enak badan---membesarkan hati saya. Mereka membantu mengurus anak-anak saya yang salah satunya juga terserang flu.

Selagi demam, sambil berbaring, saya browsing dan browsing tentang gejala yang saya alami dan memang mirip dengan gejala batu empedu yang disebabkan salah satunya oleh penumpukan kolesterol. Dalam kepanikan dan keputusasaan saya, ibu saya berujar: "Sudah wuk, positif thinking saja, tiap orang punya daya tahan tubuh sendiri-sendiri. Terlalu khawatir, terlalu memikirkan makanan, terlalu membatasi itu tidak baik. Sudah. Makan adalah pasrah." Kalimat terakhir beliau menghentak saya. Ya, makan adalah bentuk kepasrahan kita pada Yang Maha Kuasa. Apakah makanan akan jadi pengobat atau racun bagi tubuh kita.

Sedikit dikuatkan oleh spirit yang ditularkan oleh ibu saya, saya berangsur tenang. Selama demam otomatis saya banyak istirahat, saya baca-baca buku-buku kesayangan saya lagi seperti novel-novel: Da Vinci Code, memoir of A Geisha sampai buku self-help Panduan Relaksasi dan Reduksi Stres. Saya praktikkan beberapa topik didalamnya seperti pernafasan dalam dan teknik-teknik menolak ide tak rasional untuk mengatasi ketakutan-ketakutan yang selama ini saya alami.

Di suatu sore hari ketiga pasca ke internis, saat yang lain menengok adik ipar saya yang melahirkan, saya sendirian di rumah. Saya memang menolak ikut karena tubuh saya masih demam. Seusai wudhu, sambil menahan tubuh yang dingin karena air, saya sholat Ashar lalu berdoa, cukup lama saya bertafakur. Saya ucapkan terima kasih pada Allah, berkali-kali saya bertasbih menyebut nama-Nya dan kebesaran-Nya. Saya mengingatkan diri saya betapa beruntungnya saya, memiliki orangtua yang berusia 60 dan 70 tahun yang ikhlas menempuh perjalanan jauh demi menengok anaknya dan cucu-cucunya. Saya menghitung satu persatu organ tubuh saya seraya mengucapkan terima kasih karena telah berfungsi menopang kehidupan saya. Saya ingat, dalam tafakur saya sore itu, saya berterima kasih atas kaki yang saya miliki yang dapat berfungsi dengan baik yang bagi orang lain mungkin berfungsinya kaki adalah impian, saya berterima kasih atas dua balita yang saya miliki yang saya sering kewalahan dan sering saya marahi karena bagi sebagian orang mereka adalah impian. Saya berterima kasih atas suami dan orangtua yang mendampingi saya karena bagi sebagian orang lain, itu adalah impian. Saya makin menyadari bahwa hidup saya bagi sebagian orang lain adalah impian.

Air mata bercucuran di kedua mata saya, saya menangis sepuasnya, bukan karena sedih akan penyakit saya, namun karena perasaan yang kecil seorang mahluk didepan Tuhannya. Saya merasa selama ini saya kurang bersyukur karena saat dikaruniai sehat, saya justru kurang menghargainya dan kini ketika ada anggota tubuh yang kurang berfungsi saya menyebutkan sebagai bentuk protes tubuh saya. Saya saat itu hanya meminta: Ya Allah berilah saya keringat... Karena selama demam, saya hanya merasakan dingin di kulit saya tapi panas dalam tubuh saya. Ya permintaan saya sangat sederhana. Entah karena lelah berdoa sambil menangis, dahi saya mengeluarkan sedikit air, lalu air juga ada di dada saya. Saya sadari itu adalah keringat. Saya pun melakukan sujud syukur. Ajaib, tapi ini memang benar: saya berkeringat! Sesuatu yang dulu saya sebal, kini sangat saya syukuri. Allah mengabulkan doa sederhana saya begitu cepat. Meskipun demam masih saya rasakan.

Sore itu menjadi sore yang penuh keajaiban bagi saya. Ada banyak hal kecil yang membuat saya stres belakangan, menjadi sedikit terlupakan sore itu. Sambil masih mengenakan mukena, saya pun ke ruang tamu, menikmati sore dengan masih komat kamit berdoa, menasihati diri saya sendiri, saya ingatkan kedudukan saya sebagai makhluk kecil-Nya. Saya mengulang doa sesudah sholat ashar sambil memandang sore jingga dari pintu rumah saya. Saya benar-benar memanfaatkan sore tenang sendiri tanpa siapapun untuk mendekat pada-Nya.

Malamnya ketika anak-anak tidur, saya berbaring-baring sambil bercerita dengan ibu saya. Saya ungkapkan segala uneg-uneg saya, rasa stres mengurus anak, suami dan penyakit saya. Saya curahkan juga permasalahan yang terjadi di kantor. Malam itu baper dan curcol ada dimana-mana. Begitu kata anak muda jaman sekarang. Malam itu perasaan saya benar-benar tumpah, sesekali kami tertawa dan membelai tubuh Ken si kecil saya yang tengah batuk dan flu. Saya merasa sangat bersyukur memiliki ibu seperti beliau. Saya sangat menyadari kami kadang memiliki perbedaan pendapat dan saya beberapa kali marahan dengan beliau. Tapi malam itu kami bisa bicara seperti dua wanita dewasa yang sudah berumah tangga. Berbicara berbagai permasalahan seperti layaknya teman. Sesekali saya juga mendengar uneg-uneg ibu tentang papa yang kadangkala juga menimbulkan kejengkelannya.

Dalam nasihatnya ibu mengingatkan kembali tentang masalah kesehatan yang beberapa waktu terakhir menjadi kekhawatiran saya. Ibu mengingatkan untuk pasrah, ikhlas, positif thinking dan dengan setengah bergurau, ibu mengatakan, kalau Allah menghendaki mati ya mati saja tidak peduli punya penyakit atau tidak.  "Wuk (panggilan sayang beliau pada saya), sudahlah ditekuni dulu obatnya, karena efek obat biasanya tampak setelah 3 hari." Dan sesudah itu kami tertidur.

Keajaiban ternyata tak berhenti sampai disitu, ketika saya bangun sekitar jam 01.30 dinihari, saya merasakan hawa familiar pada kulit saya. Saya bangun dan saya menyentuh lengan saya, suhunya normal! Tepat seperti dugaan ibu, tepat sekitar 3 hari pasca minum obat dari internis, obat itu menunjukkan efeknya. Saya pun kembali dipenuhi rasa syukur tak terhingga. Betapa doa ibu sangat sangat luar biasa dan Allah benar-benar mendengar doa beliau. Sekali lagi saya merasa beruntung, masih memiliki ibu yang sehat yang mendoakan saya. Selain ikhtiar yang saya lakukan, ternyata obat itu bekerja tepat ketika saya sudah waktunya masuk kerja kembali.

Hingga pagi tadi, tubuh saya sudah mulai segar, demam sudah hilang meskipun masih sedikit lemas. Akhirnya saya akan menutup post kali ini dengan sebuah nasihat yang dikirimkan oleh ibu saya:

Hidup adalah BELAJAR

Belajar bersykur meski tak cukup

Belajar ikhlas meski tak rela

Belajar taat meski berat

Belajar memahami meski tak sehati

Belajar sabar meski terbebani

Belajar setia meski tergoda

Belajar memberi meski tak seberapa

Belajar mengasihi meski disakiti

Belajar tenang meski gelisah

Belajar percaya meski susah

Belajar tabah meski badai cobaan datang menerpa

Mari saling belajar dan temukan indahnya makna kehidupan



 





Rabu, 08 Juli 2015

Curhat Emak Elkeno: Ramadhan

Tahun ini menjadi Ramadhan yang istimewa bagi saya. Itu karena saya akhirnya mengurus semuanya sendiri mulai dari masak, mengatur menu, mengurus olshop/offshop Elkeno, mengurus suami, anak dan bekerja. Dan ternyata, semangat saya melakukan semua itu naik turun bak detak jantung.

Ya, akhirnya saya merasakan indahnya jadi ibu rumah tangga, pebisnis (meskipun baru kelas medioker) dan pekerja sejati setelah nenek saya yang selama 5 tahun terakhir ikut saya memutuskan ikut bulek saya di Jakarta untuk mengurus bayinya.

Awalnya semangat banget, karena dalam bayangan saya, saya bisa mandiri, mengatur rumah tangga sendiri dan menunjukkan kekuatan saya sebagai wanita sejati. Akhirnya kami memiliki rumah untuk kami sendiri, bisa apa saja tanpa diomeli nenek. Tapi ternyata, tak semudah itu. (Komentar pembaca: Hmmm... sudah kuduga.)

Menjadi ibu rumah tangga sejati is a full time gig. Mungkin klise ya. Tapi saya merasakan sendiri betapa energi saya seolah hampir selalu terkuras, lebih-lebih saat bulan Ramadhan. Selama ini saya nyaris selalu tidak terbebani dengan menyiapkan sahur dan take control of menu. Gak pernah. Ya, semuanya sudah ada yang atur. Dulu ibu saya, lalu saat berumah tangga nenek saya. Dan sekarang semuanya di tangan saya. Variasi menu, takjil dan lain-lain itu kewajiban saya. Dan itu semakin jadi tantangan sendiri karena mas suami adalah seorang picky-eater alias pemilih dalam hal makan.

So, sejak malam, bukannya pusing mikir kerjaan saya mikir menu apa ya sore nanti buat buka, sahurnya masak apa ya? Beli sayur terus diangetin saat sahur aja enak gak ya? Sayurnya apa? Bening atau lodeh? Lauknya masak ayam lagi? Tempe atau tahu? Bisa saja sih, tapi jarang disentuh suami. Telor dadar atau ceplok? Masak tiap hari? Gimana kalau kolesterolan. Itulah pertanyaan-pertanyaan yang kerap berputar di kepala saya. Maklum, saya dan suami punya selera makan berbeda. Dia suka makanan tradisional yang serba santan, saya suka sayur bening dan chinesse foods.



Pagi seusai sahur dan solat subuh, saya tidur sebentar lalu bangun sekitar jam 7 pagi saat tukang sayur membunyikan klaksonnya. Dan setelah berkontemplasi beberapa menit, saya harus putuskan masak apa buat buka nanti dan membeli bahannya di tukang sayur. Persiapan ke kantor jam 8 pagi gruduk sana sini, sambil mempersiapkan dagangan atau packing order jilbab harus bisa saya lakukan dalam kurun 30 menit. Seringkali itu pun masih ada saja order yang terlewat. Sampai kantor, rutinitas kantor seperti menentukan tema untuk diskusi di radio keesokan harinya dan lain-lain saya lakukan kadangkala dengan setengah konsentrasi. Pikiran saya yang terbiasa multithinking ini mikir soal THR, paket lebaran dan angpao serta sederet hal lain. Sulit sekali berkonstrasi pada satu hal.

Ramadhan tahun ini memang istimewa. Namun saya sadari bahwa dari tahun ke tahun justru nilai ibadah saya rasa makin berkurang kualitasnya. Sampai masuk ke 10 hari terakhir ini saya baru tarawih 1 kali, mengaji juga tidak lagi setiap hari. Ya, tapi apapun itu saya coba jalani sebisanya. Ramadhan bukan hanya soal menu apa untuk sahur dan berbuka tapi keikhlasan kita melakukan semuanya sembari menjalankan ibadah yang diperintahkan Sang Maha Pemberi Rejeki. Saya yakin Allah memahami dan berharap sekali insya Allah apabila dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan saya akan lebih siap. Happy working moms!