Kamis, 02 November 2017

My Maids My Adventure: Dari yang Soleha Sampai yang Hidupnya Penuh Drama


Kalau dipikir-pikir, saya sudah lebih dari 5 kali ganti pembantu rumah tangga. Dari sejak anak pertama saya usia 2 tahunan dan adiknya masih bayi sampai sekarang si sulung El berusia 7 tahun dan si kecil Ken berusia 5 tahun, mereka sudah diasuh oleh setidaknya 5 orang pembantu, tidak termasuk nenek saya.

Nyari pembantu itu memang gampang-gampang susah, mirip cari jodoh. Kadang kita tanpa sadar suka membandingkan satu pembantu dengan pembantu lain, yah mirip-mirip kayak orang pacaran. Yang pasti tiap-tiap pembantu punya keunikan sendiri-sendiri. Here goes my story…

Pembantu pertama saya namanya mbak Nana. Orangnya setengah tua, anaknya 4 atau 5 dan ada yang masih kecil. Si mbak Nana ini punya kelebihan yakni sangat rapi dalam hal menyeterika. Selain itu dia juga pintar ngerokin orang dan kerokannya nggak sakit. Namun lama-lama dia mulai memperlihatkan sifat aslinya seperti pinjam uang duluan (maklum suaminya nggak kerja dan anak  mereka banyak) serta ijin dengan berbagai alasan. Alhasil hubungan kami hanya bertahan sekitar 1 bulan.

Pembantu berikutnya sebut namanya mbak Etni. Orangnya masih muda, anaknya ada dua. Sebenarnya si mbak ini menjadi pembantu bukan karena terdesak keadaan. Penghasilan suaminya yang bekerja sebagai satpam di sebuah dealer kendaraan, tampaknya cukup lumayan. Dia pun tinggal di perumahan seperti perumahan saya walaupun rumahnya lebih kecil. Kemana-mana dia membawa motor Yamaha Mio baru. Motornya jauh lebih bagus dari punya saya saat itu, yakni Yamaha Vega keluaran 2010. Mbak Etni ini membawa serta dua anaknya saat bekerja pada saya. Dia ijin mengantar jemput anaknya. Kelak ini yang menjadi salah satu faktor putusnya hubungan kami. Sebagai sesama ibu muda mbak Etni ini malah berasa kayak teman atau tetangga saya. Gimana enggak, dia tidak segan ‘nembung’ alias meminta barang yang dianggapnya tidak terpakai di rumah saya. Pendek kata dia tidak cocok jadi pembantu dan hubungan kami pun putus hanya dalam hitungan 3 bulanan. Terlebih saat itu nenek saya yang saat itu masih ikut saya tidak cocok dengan si mbak. Satu hal yang saya ingat dari mbak Etni bahwa dia soleha. Dia selalu mendendangkan sholawat saat menggendong Ken. Sekarang dia berprofesi sebagai guru TK dan tak segan bercerita pada orang-orang bahwa dulu dia yang momong anak-anak saya.

Lepas dari mbak Etni, hati saya berlabuh pada mbah Yem alias mbah Pariyem. Sampai sejauh ini, mbah Yem bisa dikatakan sebagai pembantu favorit saya dan saya susah move on dari dia, ha ha ha.. Orangnya sudah berusia 50 an saat ikut saya. Lugu, tidak banyak bicara dan sabar dengan anak-anak. Maklum mbah Yem sendiri juga sudah punya cucu yang tinggal diluar kota. Selain sabar, mbah Yem ini juga tidak suka bergosip. Pembantu idaman banget ga sih? Mbah Yem ini juga punya kelebihan lain yakni irit dalam menggunakan segala kebutuhan rumah tangga seperti sabun, pewangi pakaian dan lain sebagainya. Pokoknya pangerten gitulah, seolah dia adalah bagian dari keluarga kami. Namun semanis apapun hubungan kami toh harus berakhir juga. Seperti kata bapak saya, sebaik-baik pembantu, mereka adalah orang lain yang suatu saat harus kita lepaskan. 2 Tahun hubungan kami bertahan, mbah Yem minta putus karena harus mengasuh cucu. Ah mbah Yem, kau tega mbah tega…

Kepergian mbah Yem membuat kami semua kehilangan termasuk ibu saya. Kami pun percaya bahwa takkan ada yang dapat menggantikan posisi mbah Yem di hati kami. Namun life goes on, petualangan dengan pembantu pun berlanjut dengan kehadiran mbah Tutik. Bisa dibilang mbah Tutik ini asisten rumah tangga saya yang paling dramatis kehidupannya. Orangnya setengah baya, kalau berbicara terlihat tegas. Mungkin ketularan suaminya yang seorang pensiunan AURI. Sebagai isteri pensiunan logikanya mbah Tutik ini tidak perlu hidup kesrakat. Namun apa daya Mbah Tutik ini punya latar belakang perekonomian keluarga yang berantakan. 3 Anaknya, laki-laki semua, tak satupun mampu mengangkat perekonomian keluarga. Jangankan membantu orang tua, ketiga anaknya masih hidup menumpang dengan mbah Tutik dan suaminya. Suami mbah Tutik ini sempat sakit liver, tak lama anaknya kecelakaan dan patah kaki. Lengkaplah sudah penderitaan mereka. Uang pun terkuras habis dan harus berutang. Tak lama anak sulungnya berpisah dari isterinya karena terjerat biduanita. Eh belum habis penderitaannya, si sulung buta matanya. Inilah yang membuat mbah Tutik banting setir menjadi pembantu. Uniknya, setiap menjemput anak saya, dia bilang dia neneknya. Ya sudahlah he he he… Sebagai seorang ART mbah Tutik ini rapi dan rajin, termasuk rajin bolos he he he. Punya riwayat darah tinggi dan sakit gigi, membuatnya sering sekali tidak masuk dengan alasan sakit. Awalnya sih kami maklumi, sampai suatu hari dia minta ijin cuti untuk menunggui menantunya yang akan lahiran. Kami terpaksa mengakhiri hubungan kerjasama kami walaupun mbah Tutik bersikeras ingin kembali bekerja pada kami. Gimana lagi, wong puasa sebulan juga minta cuti terus balik sesudah lebaran. So,  bye bye mbah Tutik…

Petualangan kami dengan pembantu masih berlanjut. Pembantu kelima ini sampai saat ini masih bekerja dengan kami (semoga dia ga lagi browsing dan tahu saya lagi ngrasani dia mwahahaha…). Namanya sebut saja bunga. Eh ngga ding, namanya mbak Dwi. Usianya masih muda, sekitar 24 tahun, anaknya umur 6 tahun. Ya, si mbak ini tampaknya penggemar Agnes Mo karena dia nikah dini. Mbak Dwi ini suka pakai celana pendek kemana-mana. Salah satu hal yang tidak dipunyai pembantu-pembantu saya sebelumnya adalah suaranya. Mbak Dwi ini kalau ngomong, satu RT denger semua. Kenceng banget. Tak lama setelah dia bekerja saya resign dari kantor. Otomatis saya tahu kinerjanya setiap hari. Tampaknya mbak Dwi ini suka segala sesuatu yang over. Kalau ngomong suaranya over, masak nasi over banyaknya, makai sabun over banyaknya dan over-over lainnya. Yah, namanya orang tahu barang tinggal pakai mungkin kurang bisa diajak hemat.

Punya 5 pembantu dengan karakter berbeda-beda saya belajar satu hal bahwa perempuan itu adalah makhluk yang kuat dan dapat diandalkan. Tak segan turun langsung menegakkan periuk dapur saat keadaan memaksanya meskipun itu berarti harus menjadi pembantu. Saya merasa lebih bersyukur karena lebih beruntung dari sebagian besar mereka, setidaknya dari segi ekonomi. Jadi saya pun memperlakukan mereka sebagai partner dan bukan pembantu. Mungkin Anda diluar sana juga merasakan hal yang sama?